Lampu Jalan PJU LED Solar cell All in One

Produk produk terbaru PJU LED terus bermunculan. Semua bertumbuh dengan adanya perkembangan battery lithium yang lebih efektif dan ekonomis. Sistem ini sudah terintegrasi antara solar panel, lampu led dan battery dalam satu sistem.

Sistem PJU LED All in one ini akan sangat bagus secara estetika dan sangat cocok untuk daerah pertamanan, daerah perkotaan sehingga akan mempercantik taman itu atau alun – alun tersebut.

Sistem PJU LED All In One menggunakan lampu dengan lumen mulai 2000 lm sampai 8000 lm yang di lengkapi sistem sensor kalau sudah tidak ada panas matahari akan menyala dengan otomatis dan akan mati apabila ada sinar di pagi hari.

==KAMI SELALU INGIN MEMBERI LAYANAN TERBAIK BAGI ANDA KARENA ANDA PUAS ADALAH TUJUAN KAMI ADA===

Keuntungan spesifikasi PJU All in One

  • Sistem pemasangan yang sangat sederhana
  • Panel surya, battery liithium dan bcr dalam satu lampu
  • Tidak menggunakan box battery
  • Umur battery lithium yang lebih lama
  • Menggunkan sensor gerak atau otomatis maka akan menyala dengan full
  • Performance battery lebih maksimal untuk nyala lampu.
  • Bebas perawatan dan umut led panjangg
  • Sistem tanpa PLN sama sekali
  • Irit di biaya pemasangan infrastruktur
  • Standart Sertifikasi ISO dan Lembaga Uji Tes

 

Efisiensi Solar Cell Sudah Mencapai 46%

Penelitian masih berlangsung dengan hasil yang semakin baik. Inilah grafik historis efisiensi solar sel hingga kini. Peningkatan efisiensi adalah indikasi penurunan biaya.

Energi surya menunjukkan trend semakin murah dengan penurunan harga signifikan. Kita berharap pengambil kebijakan di negeri membiasakan diri membaca fakta seperti ini untuk merebut peluang besar di masa depan. Tidak sedikit orang berkuasa (termasuk sebagian dinas-dinas terkait di daerah) yang masih mempertahankan argumen bahwa energi matahari mahal dan tidak perlu dipertimbangkan; hanya menggunakan data lama, tanpa melihat trend ini. Pemerintah di banyak negara maju membuat kebijakan masa kini dengan melihat informasi hostoris dan estimasi masa depan.

Malaysia sudah jauh di depan kita dalam pengembangan energi matahari. Akankah dalam sektor ini kita kembali di posisi inferior di banding negara tetangga, sehingga pada akhirnya kita hanya bisa habis-habisan mempertahankan lagu dan tari sebagai keunggulan kita?

CellEff2016
Best Research Cell Efficiency, NREL (sumber: http://phys.org/news/2016-02-solar-cell-efficiency-nrel.html).

Megaproyek pembangunan pembangkit listrik 35 GW didominasi dengan PLTU batubara (sangat mungkin beli dari China, kita saksikan nanti). Berapa efisiensi PLTU batubara. Rekor dunia ada di Denmark, 47%, tetapi rata-rata yang beroperasi 32-35%.

http://cornerstonemag.net/setting-the-benchmark-the-worlds…/

Kita sudah berpengalaman terlambat mengambil keputusan yang berorientasi masa depan. Maka kita sering menjadi pengguna teknologi (pasar bagi bangsa lain), yang sadarnya terlambat.

http://www.power-technology.com/…/featurecharting-progress…/

Source : https://kunaifi.wordpress.com/2016/06/12/efisiensi-solar-cell-sudah-mencapai-46/

Energi Surya Penggerak Roda Pembangunan Masa Depan

Oleh: DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.

Energi adalah sebuah kata yang tidak pernah henti diperguncingkan manusia di Dunia termasuk Indonesia, selama penghuni jagat ini masih menghendaki adanya kehidupan yang lebih baik dan berpindah dengan lebih cepat. Fenomena itu menguatkan energi baru dan terbarukan (EBT)  menjadi penting ketika cadangan migas dan batubara menurun dan bahkan akan habis pada saatnya. Hal itu diperparah dengan meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil untuk menjalankan kegiatan di berbagai proses produksi, transportasi dan rumah tangga. Bahkan banyak kalangan menilai peperangan antar bangsa kedepan dapat dipicu oleh perebutan sumber-sumber energi untuk kehidupan.

Karena pentingnya energi untuk keperluan hidup, pemerintah tidak tinggal diam, berbagai kebijakan telah dibuat agar energi dapat memenuhi kebutuhan, dimanfaatkan secara efektif, efisien dan berkeadilan. Secara umum prinsip dasar pembangunan energi adalah terletak pada perubahan paradigma dari “energi sebagai komoditas” menjadi “energi sebagai modal dasarnya pembangunan”. Sayangnya kebijakan ini belum tersosialisasikan dengan baik, sehingga sebagian besar masyarakat belum mengetahui dan akibatnya komoditas energi masih marak diperdagangkan di sejumlah wilayah. Dalam kebijakan energi nasional antara lain menegaskan bahwa Pemerintah mendorong peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) dari yang terjadi saat ini sekitar lima persen dari total kebutuhan energi nasional menjadi 23 persen pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050. Untuk proyeksi pemanfaatan energi matahari adalah sebesar  6,4 GigaWatt pada tahun 2025 dan 45 GigaWatt pada tahun 2050. Melihat hal ini, harapan besar bagi Industri energi surya untuk meningkatkan akselerasi produksinya dalam skala lebih besar. Proyeksi di atas juga menegaskan, tidak bisa tidak, sejak dasa warsa terakhir energi surya diteliti, dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai energi alternatif terlebih ketika negara menghadapi persoalan tentang pemanasan global dan isu tentang pencemaran lingkungan.

Sumber energi surya  memiliki beberapa jenis, antara lain thermal dan photovoltaik. Jenis thermal biasanya memanfaatkan panas energi matahari untuk disimpan dan digunakan ketika diperlukan, seperti pemanas air dan ruang dengan suhu terkondisi. Sedangkan jenis photovoltaik prinsipnya mengubah energi gelombang elektromagnetik matahari menjadi energi listrik, bisa digunakan untuk penerangan jalan, listrik rumah tangga, sumber energi untuk mobil listrik, energi penggerak jam tangan dan dinding, sumber energi untuk pelayanan umum, sumber energi untuk nelayan, bahkan penggerak mesin-mesin produksi. Namun hingga hari ini pemanfaatan energi surya terkesan pasang surut, ada pendapat yang mengatakan bahwa energi surya masih memiliki sejumlah masalah seperti pemeliharaan, efisiensi serta harga yang masih relatif mahal. Kenapa ??

Lemahnya kontribusi lembaga bisnis dan inovasi

Peningkatan pemanfaatan energi matahari untuk kegiatan produktif tidak akan ada artinya jika teknologi ini tidak dengan sepenuhnya dikuasai oleh industri dalam negeri dan masyarakat, yang akibatnya masyarakat hanya akan menjadi penonton dan penikmat teknologi yang diproduksi oleh bangsa lain. Meskipun saat ini ada sejumlah perusahaan yang bergerak dibidang industri solarcell di Indonesia, namun kenyataannya belum ada satu perusahaan pun yang dapat melakukan proses inovasi di seluruh rantai nilai hulu-hilir. Secara umum perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan solarcell  ini masih sebatas merakit mulai dari cell hingga menjadi modul solarcell yang siap dipasarkan, sedangkan cell diimpor dari negara lain.

Meningkatkan Inovasi Sollarcell

Energi listrik yang dibangkitkan oleh sebuah solarcell  berasal dari lembaran semikonduktor, yang secara sederhana komponen ini mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Ada dua jenis solarcell yang umum dipakai sebagai pembangkit, yaitu monocrystallin dan polycrystalline. Ukuran monocrystalline biasanya dibentuk tergantung dari disain yang diminta sesuai kebutuhan seperti berbentuk genting, kontur jendela, bahkan bulat seperti bola. Namun untuk polycrystalline secara umum berbentuk persegi dengan ukuran 10 sampai 15 cm persegi. Monocrystalline silicon mempunyai efisiensi 12 sampai 15 %, sedangkan polycrystalline silicon mempunyai efisiensi 10 sampai 13 %. Jenis lain penangkap energi matahari adalah amorphous silicon yang mempunyai efisiensi 6 sampai 9 %. Polycrytalline silicon berkembang pesat karena paling simpel dalam mendesain, menyusun dan melakukan perawatan selnya. Dengan penemuan metode-metode baru akhir-akhir ini, efisiensi dari polycrystalline silicon dapat mencapai 16.0 % sedangkan monocrystalline dapat mencapai lebih dari 17 % sampai 21%

Tenaga listrik yang dihasilkan oleh sebuah solarcell sangat kecil. Untuk memperoleh tenaga listrik dengan jumlah yang besar maka beberapa solarcell harus digabungkan sehingga terbentuklah satuan komponen yang disebut modul, pada umumnya daya listrik maksimum yang dihasilkan mencapai 130 Watt setiap modul. Jika sebuah modul masih belum cukup besar untuk menghasilkan tenaga listrik, maka beberapa modul perlu digabung sehingga menjadi Array. Sebagai contoh untuk menghasilkan listrik sebesar satu kilo watt membutuhkan array seluas kira-kira 7 sampai 10 meter persegi. Semakin besar kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) semakin luas array yang harus dibentang.

Metoda membuat produk solarcell tidak terlalu sulit, bahan bakunya adalah silikon yang tersebar luas dan mudah didapat di Indonesia. Di alam, silikon biasanya terikat dalam bentuk pasir Silika (SiO2), yang dapat dipisahkan melalui berbagai tahap yang harus dilakukan secara runut. Pertama, Pasir Silika dibuat menjadi Silikon, tahap ini merupakan tahap awal, dimana pasir yang ada di alam diolah menggunakan “smelter” dan dengan proses oksidasi maka silika dalam proses ini dapat ditransformasi menjadi silikon murni. Kedua merupakan proses Silikon menjadi Inggot, dalam tahap ini diperlukan peralatan yang disebut electric furnace untuk mencairkan bubuk silikon yang kemudian dicampur dengan bahan tertentu sedemikian sehingga menjadi N-tipe atau P-tipe. N-tipe adalah bahan dasar solar cell berjenis negatif dan P-tipe adalah bahan dasar solarcell berjenis positif. Setelah dicampur dengan bahan-bahan tersebut lalu didinginkan menjadi Inggot. Ketiga adalah proses Inggot menjadi solarcell, dengan menggunakan Diamond Wire Slicing Machine, inggot dipotong dengan ketebalan sekitar 0.8 sampai 1 mm menjadi solarcell berbentuk segi empat dengan sisi-sisi ukuran 10 sampai 15 cm. Keempat adalah solarcell menjadi Modul, setelah solarcell dilakukan proses laminating maka dilakukan penggabungan baik secara paralel maupun seri sehingga membentuk sebuah modul. Kelima, Modul menjadi Array.

Meskipun teknologi dan inovasi energi surya telah dikuasai secara akademik oleh para peneliti dan tenaga ahli di Indonesia, namun di level  industri, hingga saat ini umumnya baru dalam tingkat merakit modul dari sejumlah solarcell yang diimpor dari luar negeri. Para pengusaha belum tertarik untuk berkiprah di industri hulu karena sejumlah alasan yang  tidak hanya disebabkan pasar yang belum stabil, kebijakan pemerintah yang belum jelas dan kecenderungan prioritas pada energi fosil tetapi juga karena investasi untuk industri hulu cukup mahal.

Bagi Indonesia yang telah mengubah paradigma bahwa “energi sebagai modal pembangunan” maka tidaklah mungkin energi surya hanya dikuasai ditingkat hilir, melainkan seluruh rantai inovasi yang menghasilkan nilai tambah tinggi secara mutlak harus dikuasai. Karena itu infrastruktur dan sumberdaya manusia terampil harus disiapkan yaitu antara lain infrastruktur yang terkait dengan peralatan smelter yang berfungsi memproduk bubuk silikon murni, peralatan electrical furnace untuk membuat inggot dari serbuk silikon dan diamond wire cutting machine yang digunakan untuk membuat solarcell dari inggot. Namun juga pemerintah harus menyiapkan program studi yang diperlukan untuk kepentingan ini seperti politeknik dan akademi vokasi.

System Inovasi

Meskipun Proses inovasi solarcell dapat dilakukan dengan sempurna, dilihat dari aspek manajemen inovasi, masih ada beberapa faktor yang dapat menghambat produk inovasi dan alih teknologi, yang dapat mengakibatkan dampak pada kegagalan pasar,  antara lain : (a) apakah teknologi yang digunakan selaras dengan kemampuan tenaga kerja, berkualitas cukup, efisien serta memiliki delivery yang baik, (b) sejauh mana Organisasi yang didedikasikan untuk mengelola proses inovasi ini dapat berjalan secara efektif dan efisien, (c) bagaimana dengan partnership yang dibangun, apakah telah memenuhi unsur bisnis, akademis dan regulasi, (d) mampukah manajemen menanggung resiko yang dihadapi terutama terkait dengan bidang riset dan pengembangan yang memiliki kemungkinan kegagalan dan implikasi biaya tinggi  dan (e) apakah produk yang diciptakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar,  dalam jumlah yang cukup, jangkauan akses yang mudah, serta harga yang pantas.

Untuk mengatasi hal ini, peran pemerintah, dunia usaha serta akademisi mutlak diperlukan. Pemerintah berfungsi memberi iklim kondusif, regulasi yang mendukung serta skema pendanaan yang layak. Akademisi melakukan fungsinya terutama untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapan teknologi yang sesuai dan sistem inovasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, melakukan pendidikan dan diklat khusus. Dunia Usaha melakukan fungsinya terutama dalam melakukan penyelarasan produk teknologi dengan pasar, membuka cakrawala pemasaran yang luas, strategi pemasaran dan penyediaan suku cadang. Industri melakukan fungsinya untuk memproduk secara masal dengan tetap mengutamakan Quality, Cost and Delivery (QCD).

Implikasi

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, BPPT serta institusi lain yang terkait dengan pengembangan energi surya bersama-sama dengan Dunia Usaha dapat segera melakukan perencanaan baik ditingkat makro, meso dan mikro, memberi ruang dalam bentuk insentif, memperbaiki regulasi, membuat Roadmap serta program dan kegiatan secara terstruktur  dan komprehensif melalui konsorsium dan kolaborasi yang sinergis. Karena itu dalam RPJMN dan Renstra bahkan kegiatan kedepan harus cukup memberi ruang untuk program kemandirian Teknologi dan Inovasi di bidang Energi Surya.

Penulis adalah Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia.

Sumber : Dewan Energi Nasional (DEN)

Dubai Tanam Pohon Palem Berdaun WiFi

KompasProperti – Inovasi terus dikembangkan Dubai guna mengukuhkan kota itu sebagai ‘Smart City’. Salah inisiasi yang dilakukan yaitu dengan menciptakan ‘Smart Palm’ atau Pohon Kelapa Pintar.

Disebut pintar, lantaran pohon kelapa buah karya teknologi itu dilengkapi dengan kemampuan untuk memancarkan sinyal WiFi secara gratis, tempat pengisi daya, hingga pusat informasi bagi turis.

Seperti dikutip dari Designboom, Smart Palm kini banyak tumbuh di kawasan pantai kota tersebut.

Proyek Smart Palm dilengkapi dengan enam fungsi utama, yaitu WiFi hotspot yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan turis ketika berada di sekitar instalasi.

Selain itu, setiap unit Smart Palm juga dilengkapi fitur keamanan darurat, dimana terdapat kamera CCTV infra merah 360 derajat dan tombol darurat yang dapat diakses langsung.

Panel surya juga diletakkan pada masing-masing daunnya, sehingga memungkinkan Smart Palm untuk mengisi daya secara otonom.

Fitur layar sentuh dan aplikasi cerdas juga disematkan untuk menyajikan informasi seputar kota cerdas, situs web khusus hingga aplikasi mobile yang dapat diakses.

Terdapat layar digital luar ruang yang berfungsi menyediakan tampilan pesan layanan masyarakat, informasi dari pemerintah, hingga iklan komersial.

Terakhir, pohon kelapa pintar itu juga dilengkapi dengan fasilitas tempat pengisian daya dan area tempat duduk. Fasilitas itu bahkan disebut dapat mengisi daya 2,5 kali lipat dari fasilitas umumnya.

Tak hanya dapat dimanfaatkan pada siang hari, di malam hari pun Smart Palm dapat dimanfaatkan turis dan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Lampu LED berwarna hijau sengaja disematkan di atas ‘daun’, sehingga dapat bersinar terang di malam hari.

Kini Banyak Nelayan gunakan Perahu Tenaga Surya

Sindonews.com – Sejumlah nelayan di Desa Tambak Cemandi, Sedati-Sidoarjo, kini mulai menggunakan perahu tenaga surya matahari. Hal tersebut dipilih, lantaran perahu tenaga surya hasil rakitan Institut Teknologi Surabaya ini sangat irit karena tanpa menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Penggunaan perahu tenaga surya ini dinilai nelayan sangat praktis dan efisien. Tanpa menggunakan BBM, nelayan kini tidak perlu khawatir dengan naiknya harga BBM ataupun kelangkaan BBM seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Kini banyak nelayan gunakan perahu tenaga surya

Ilustrasi

“Ya perahu ini kini diminati para nelayan, karena selain menggunakan tenaga surya, perahu ini juga bisa menyimpan energi matahari sebagai penggerak mesin. Sehingga nelayan tidak perlu cemas sewaktu-waktu macet di tengah laut,” ungkap Lurah Tambak Cemandi, Khoiruddin, di Desa Cemandi, Senin (4/2/2013).

Menurutnya, melalui tenaga matahari yang terserap melalui kaca lapis yang berada di atap perahu, nelayan bisa menggunakan perahu tenaga surya selama tujuh jam tanpa berhenti.

Namun, meski irit BBM, namun perahu tenaga surya ini dinilai oleh nelayan belum bisa digunakan untuk melaut saat gelombang tinggi.

“Karena kecepatannya belum bisa maksimal seperti perahu nelayan pada umumnya,” paparnya.

Pasalnya, untuk bisa mengarungi gelombang tinggi di laut, kecepatan perahu harus bisa maksimal seperti perahu pada umumnya yang menggunakan bahan bakar solar.

Tulisan Mas Bimo Tentang Listrik Tenaga Surya yang Masih Sangat Mahal

BimoGuritno Jun 4, 7:38 am

Saya bukan ahli listrik, tapi saya belajar dengan browsing, disini banyak yang salah kaprah, banyak banget yang nulis artikel mengenai hemat energi dan jualan panel PLTS dengan harga 2 jutaan, padahal perlu tau, 2 juta ini cuma bisa hidupkan 3 bohlam lampu aja lho, memang ga salah ini namanya investasi, mahal pemasangan, tapi tak perlu bayar listrik lagi untuk 3 lampu itu, tapi ya ga tau juga maintanancenya seperti ganti panel kalo sudah rusak (karena cuaca) per tahunnya, biaya ganti aki bila soak per 6 bulan, dsb dsb.. ini cuma asumsi kasar aja lho, sebenarnya tidak masalah, tapi bagaimana asumsi masyarakat luas bahwa “PLTS MENJAMIN LISTRIK BEBAS BIAYA” ini agaknya mesti diperbaiki melihat tingkat ekonomi kita yang rendah, banyak yang ingin merubah dari listrik PLN jadi PLTS karena berpikir murah dan gratis.

sebagai ilustrasi, sayakutip dari http://id.berita.yahoo.com/blogs/rumah/ini-dia-aplikasi-panel-surya-untuk-hunian-anda-063304343.html

“jadi untuk beban listrik terpasang 450 Watt, setara dengan kapasitas 1040 Wp atau 5200 Wh menggunakan 8 unit panel tipe 130 Wp dan unit penyimpan daya (baterai) berkapasitas 12V 100 Ah sebanyak 6 unit, satu unit Battery Charge Control, dan satu unit inverter, bracket, panel box, box battery, dan peralatan pendukung lainya.

Dari sini bisa diprediksi berapa investasi yang harus dikeluarkan, kata Chaqoqo. Perkiraan hitungan mudahnya, kapasitas sistem dikali USD10 (harga perkiraan).

Jadi, apabila menggunakan contoh penghitungan daya tersebut, maka nilai investasi yang harus dikeluarkan saat awal pemasangan adalah sebesar 1040 Wp x USD10 = USD10.400.

“Contoh perhitungan ini adalah untuk instalasi off grid system,” kata Chaqoqo. Bila di-rupiahkan dengan Kurs Rp9.300, imbuhnya, maka total investasinya berkisar Rp96.720.000.”

ini baru untuk nyalain sekitar 1 unit AC 1/2 PK, jadi yang tidak punya uang dan mao bikin PLTS nyalain listrik 1 rumah mikir2 dulu deh… :)  dan bagi yang jualan PLTS kecil2an ya liat target marketing nya juga ya.. :)

Hemat Energi Demi Pemerataan Listrik

Intisari-Online.com – Saat ini, sebagian besar energi yang digunakan di Indonesia berasal dari pembakaran energi fosil yang dapat menyebabkan polusi gas rumah kaca. Ini akan berdampak pada munculnya pemanasan global, perubahan iklim, serta kerusakan lingkungan hidup. Bahkan, dalam laporan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) pada 2009 dikatakan bahwa emisi gas rumah kaca dari penggunaan listrik akan bertambah 7 kali lipat dalam 25 tahun.

Efisiensi energi bisa jadi salah satu langkah dalam upaya konservasi energi. Efisiensi energi ini dapat mengurangi penggunaan energi fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas bumi yang selama ini sangat dominan dalam kehidupan kita. Kita perlu ingat, energi yang berasal dari fosil ini suatu saat pun akan habis bila terus dieksploitasi. Pun, efisiensi energi dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan kerusakan lingkungan hidup.

Faktanya, sektor rumah tangga menghabiskan sekitar 11% dari total energi di Indonesia. Itu sebabnya, upaya efisiensi energi dalam sektor ini sangatlah penting. “Konsumsi energi yang peningkatannya paling cepat itu sektor rumah tangga ya,” ujar S. Astrid Kusumawardhani, Manajer Informasi dan Komunikasi Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI). Itu disebabkan semakin banyaknya rumah yang dibangun. Kondisi ekonomi yang semakin baik juga menimbulkan perilaku konsumtif. “Semakin bagus kondisi ekonominya, konsuminya semakin meningkat,” tambah Astrid. Misalnya, dengan membeli barang elektronik secara berlebihan.

Perlu kita ketahui, rasio elektrifikasi di Indonesia itu masih sekitar 50-70%. Sementara 23% dari persentase listrik yang ada di Jawa dan Bali, terpusat di Jakarta dan Tangerang. “Jadi bagi kita yang hidup di Jakarta dan Tangerang sebenarnya jauh lebih beruntung dari teman-teman yang di luar area tersebut yang asupan listriknya lebih sedikit. Pun, jauh lebih beruntung lagi dari mereka yang belum mendapatkan asupan listrik,” jelas Verena Puspawardani, Koordinator Kampanye Program Iklim dan Energi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia.

Verena menambahkan, hemat energi bisa juga diartikan sebagai “bantuan” tak langsung kita untuk teman-teman yang belum mendapatkan asupan listrik. Selama ini, pembangkit listrik kita bekerja berdasarkan tren. Kalau tren penggunaan listrik Jakarta-Tangerang tinggi, secara otomatis mesin akan memforsir untuk memasok listrik ke area tersebut yang lebih banyak membutuhkan listrik. “Kalau masyarakat Jakarta-Tangerang ini bisa mengubah gaya hidup lebih hemat energi, listrik bisa dialihkan ke tempat lain.”

Hemat energi, artinya juga hemat biaya. Kok bisa? Boleh dibilang biaya listrik menjadi biaya rutin dalam rumah tangga. Dengan menghemat energi, biaya listrik yang harus kita bayar pun akan berkurang. Jika kita bisa hemat energi, berarti kita bisa hemat dari biaya rutin. Nah, dana tersebut bisa dialokasikan untuk hal lain, misalnya biaya pendidikan anak atau kesehatan.

Jadi, hemat energi bisa membuat hemat biaya, membantu teman-teman yang punya keterbatasan listrik, juga bisa membantu bumi dalam hal menurunkan emisi. Lihat, betapa banyak manfaatnya bila kita menerapkan pola hidup hemat energi!

Langkah pertama dalam menghemat energi tentu saja dengan mengetahui konsumsi energi kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tahu porsi pemakaian energi dalam rumah tangga, kita bisa mengatur pemakaiannya agar tak berlebihan.

Praktisnya, kita bisa mengetahui konsumsi energi dengan mengeklik situs EECCHI (www.konservasienergiindonesia.info). Di situs itu ada Kalkulator Energi yang dapat menghitung cepat konsumsi energi sehari-hari dalam lingkup rumah tangga. “Pasti ada margin of error, tapi sudah lumayan mendekati angka riilnya,” kata Astrid. Lalu, bagaimana menghitung karbon yang kita hasilkan setiap hari? Kita bisa mengalikan energi (kWh) yang kita gunakan dengan koefisien emisi CO2 di Indonesia. Menurut IPPC tahun 1998, koefisien emisi CO2 adalah 781.2621 gram/kWh.

Terbang dengan Pesawat Bertenaga Surya

Intisari-Online.com – Membayangkan terbang tanpa harus memikirkan tenaga untuk menggerakkannya? Jawabannya adalah Solar Impulse. Pesawat ultra ringan tersebut sepenuhnya ditenagai oleh matahari. Dengan kata lain, pesawat ini hanya mengandalkan panel surya dan tenaga baterai. Jadi tidak memerlukan lagi bahan bakar.

Kini pesawat tersebut siap untuk terbang dari pantai ke pantai di musim semi ini. Para peneliti mengumumkan berita tersebut pada 28 Maret lalu pada Moffett Air Field di NASA Ames Research Center, Mountain View, California, Amerika Seirkat.

Dua orang pilot asal Swiss yang menerbangkan pesawat ini, Bertrand Piccard dan Andre Borschberg, ingin menyelesaikan penerbangan dari Moffett Field ke New York City. Selama perjalanan tersebut, pesawat akan berhenti di beberapa tempat. Pesawat akan memulai perjalanannya pada 1 Mei nanti dan direncanakan akan tiba di Big Apple pada awal Juli.

Pesawat ini memiliki rentang sayap yang sama dengan pesawat jet 747, berat yang sama dengan mobil wagon serta besar tenaga yang sama dengan yang diperlukan motor jenis skuter yang kecil.

Panel surya melintas di sepanjang sayap akan memanfaatkan sinar surya yang muncul sepanjang hari. Baterai lithium-polymer akan menyimpan tenaga yang dihasilkan dari panel surya tersebut untuk digunakan pada penerbangan malam hari.

Bahan pesawat yang terbuat dari serat karbon dibentuk menyerupai struktur sarang lebah akan membentuk sebagian besar bagian pesawat. Dampak dari bahan dan struktur ini adalah sebuah pesawat yang super ringan, sehingga tenaga yang diperlukan untuk menggerakannya akan lebih kecil.

Pada 2010, pesawat Solar Impulse menyelesaikan penerbangan selama 26 jam termasuk penerbangan malam hari dan pada 2012 melakukan penerbangan dari Swis ke Maroko, tentunya tanpa sedikitpun menggunakan bahan bakar. (MNN)

Hati-hati, Cahaya LED Sebabkan Kerusakan Permanen Retina Mata

Jakarta, Belakangan makin banyak produk elektronik yang menggunakan teknologi LED seperti televisi, monitor komputer atau ponsel layar sentuh karena dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk menghemat listrik. Tapi tak banyak yang tahu jika teknologi penyimpan energi ini justru berbahaya bagi mata.

Seorang peneliti dari Complutense University, Madrid, Spanyol melaporkan bahwa paparan cahaya LED dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata manusia.

“Pasalnya cahaya dari LED (light-emitting diodes) berasal dari spektrum cahaya berwarna biru dan ungu yang energinya tinggi namun gelombangnya pendek,” kata si peneliti, Dr. Celia Sánchez-Ramos.

“Jika terpapar cahaya ini secara terus-menerus, entah itu dari monitor komputer, ponsel, layar televisi hingga cahaya lampu dalam atau luar ruangan maka cahaya ini sanggup merusak retina mata manusia,” tambahnya.

Menurut Sánchez-Ramos, masalah akan bertambah lebih buruk karena manusia terus terpapar perangkat-perangkat elektronik ini dan anak-anak telah menggunakannya sejak usianya masih dini, baik di sekolah maupun di rumah.

“Manusia modern membuka mata mereka sekitar 6.000 jam dalam setahun dan terus terpapar cahaya buatan tersebut pada sebagian besar waktunya. Padahal mata tidak dirancang untuk menatap langsung ke cahaya, tapi didesain untuk melihat sesuatu dengan bantuan cahaya,” terang Sánchez-Ramos seperti dilansir Livescience, Selasa (14/5/2013).

Komentar tersebut didasarkan pada studi yang dilakukannya bersama rekan-rekannya pada tahun 2012 dan dipublikasikan dalam jurnal Photochemistry and Photobiology. Singkatnya, studi itu menemukan bahwa radiasi LED dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada sel-sel epitel pigmen retina.

Untuk itu, Sánchez-Ramos menyarankan agar orang-orang mengenakan kacamata yang dilengkapi UV filter dan banyak mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin A agar retina terlindung dari kerusakan.

Tol Surabaya-Gempol Dipasangi Lampu PJU LED

BISNIS.COM, JAKARTA-Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol akan segera memasang serta mengkonversi lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang ada dari Jenis High Pressure Sodium (Son-T) ke jenis Light Emitting Diode (LED). Hal itu sejalan dengan semangat  go green (ramah lingkunan), serta dalam rangka efisiensi melalui penghematan energi.

Seperti di lansir situr perseroan, Kepala Cabang Surabaya-Gempol Agus Purnomo mengungkapkan lampu ini memiliki ketahanan hingga 50.000 jam dengan Lux (satuan untuk kekuatan cahaya) 15 hingga 20. Penggantian lampu Son-T yang berdaya 250 W, ke lampu LED yang berdaya 120 s.d 125 W, juga akan menghemat daya listrik sebesar 50%.

“Selain lebih hemat, intensitas cahaya akan tetap terang, karena sudah sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM)” ujar Agus hari ini, Rabu (17/4/2013).

Dia menjelaskan pada tahun 2013 ini, Cabang Surabaya Gempol akan mengkonversi 195 lampu PJU Son-T menjadi LED, dan akan memasang PJU baru dengan lampu LED sebanyak 234 unit.

Pemasangan PJU ini akan dilaksanakan di ruas Waru-Dupak, yang saat ini sudah dikategorikan ruas urban oleh BPJT, sehingga persyaratan untuk ruas tersebut ditambah dengan adanya fasilitas penerangan/PJU untuk menjamin kenyamana dna keselamatan berkendara pada malam hari.

Saat ini PJU yang terpasang di Jalan Tol Surabaya-Gempol masih terkonsentrasi di sekitar interchange. Dari PJU yang sudah terpasang tersebut, 66 unit diantaranya sudah menggunakan sumber listrik tenaga surya (sollar cell energy).