Surakarta Pertimbangkan Beralih ke Lampu Jalan Tenaga Surya

Metrotvnews.com, Surakarta: Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, mengkaji kemungkinan beralih menggunakan penerangan jalan umum bertenaga surya, karena dinilai lebih hemat.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surakarta Satryo Teguh Subroto mengatakan di kota itu terdapat 16.000 titik penerangan jalan umum. Dengan jumlah tersebut rekening listrik yang harus dibayar kepada PLN mencapai Rp2,2 miliar.

“Dengan menggunakan penerangan jalan umum tenaga surya, biaya itu bisa dihemat. Apalagi kalau 16.000 titik itu sudah pakai solar cell semua,” jelas Satryo, Selasa (9/4).

Namun, Satryo mengakui tidak mudah untuk mewujudkan rencana itu. Kendala utamanya adalah masalah pendanaan. Untuk membangun satu titik penerangan jalan umum tenaga surya dibutuhkan biaya Rp22 juta.

Tetapi, lanjutnya, biaya itu lebih murah jika dibandingkan dengan manfaat jangka panjang yang akan didapatkan. Sebab, usia penerangan jalan umum yang memanfaatkan tenaga surya bisa mencapai 25 tahun. “Ini efisiensi, bisa menghemat Rp2,2 miliar per bulan selama 25 tahun,” katanya.

Selain itu, penggunaan tenaga surya bisa ikut mengurangi beban listrik PLN yang secara tidak langsung akan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM). (Ferdinand)

Editor: Patna Budi Utami

Lampu Tenaga Surya Terangi Borobudur di Malam Hari

INILAH.COM, Magelang – Candi Borobudur kini diterangi dengan lampu bertenaga surya yang menjulang tinggi di sekitar pelatarannya.

Instalasi panel surya tersebut memanfaatkan penyinaran matahari pada siang hari untuk menghasilkan tenaga listrik untuk penerangan lampu sepanjang malam melalui 10 panel surya yang dihibahkan Greenpeace.

Kepala Tim Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Arif Fiyanto mengatakan, pemasangan lampu tenaga surya itu adalah pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti angin, sinar matahari dan panas bumi.

“Alat ini menghasilkan energi bersih untuk borobudur karena menggunakan pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan,” ujar Arif seperti dikutip dariAntara.

Cara kerja panel surya tersebut antara lain menyerap sinar matahari selama kurang lebih 4-12 jam saja pada siang hari. Alat tersebut kemudian akan menyalurkan sinar matahari yang ditangkap ke dalam baterai dan ketika disalurkan ke listrik pada malam hari akan menghasilkan listrik untuk penerangan dengan kapasitas maksimal 2.000 watt.

“Lampu ini akan menyala selama 12 jam secara otomatis ketika senja datang dan akan padam pada pagi harinya karena ada sensor di dalamnya,” ujarnya.

Di sepanjang Borobudur sekitar 10 lampu penerangan bertenaga surya dengan energi sebesar 40 watt per lampu atau sekitar 120 watt jika dikonversikan seperti lampu mercury biasa.

Satu lampu dilengkapi 2 alat panel surya yang menghasilkan sekitar 50 watt-100 watt per 1 alat panel surya.

Harga panel surya ini sekitar Rp60 juta per alat panel dan didatangkan dari sejumlah negara seperti China, Jerman, Thailand, Swedia dan Jepang.

“Alat panel surya itu mahal, tapi merupakan alat satu-satunya yang tidak berdampak polusi bumi,” kata dia.

Manfaatnya, ujar dia, biaya tagihan listrik juga sedikit berkurang dan tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

Dalam rangkaian menciptakan energi bersih ini, Greenpeace bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat juga mendirikan stasiun penyelamatan bumi (Climate Rescue Station) berbentuk bola berlantai empat dengan peruntukan sebagai miniatur museum untuk menyadarkan masyarakat tentang solusi energi terbarukan dan upaya memerangi perubahan iklim.

Stasiun mini ini juga menggunakan sumber energi listrik yang berasal dari tenaga surya dan angin. Di dalamnya juga dilakukan berbagai kegiatan seperti pelatihan workshop dan trainingbagi para pelajar STM.

“Kami ingin menggambarkan kalau alat panel surya ini sangat mudah diaplikasikan oleh masyarakat setempat terutama yang belum memiliki akses listrik,” tambahnya.

Stasiun ini dibangun sejak 13 Oktober hingga 28 Oktober 2012 untuk memberikan keterangan dan informasi mengenai energi rumah kaca terhadap masyarakat sekitar.

Program ini dilakukan atas kerjasama Greenpeace, Kementerian Pendidikan dan Budaya dan Aliansi Adat Masyarakat Nusantara. [ikh]

Perbandingan Lampu Induksi LVD dan LED

Comparison program LVD LED
Feature Define Low Voltage Discharge
Liner light. Good for large wattage application.
Lighting Emit Diode
Spot light. Usually for signboard, decoration applications.
Technology Research and develop in 2000, sell in 2003,in a position of new leading light source. Standardized product can fully meet the market need, suitable for large scale production. The first red light LED was developed in 1968.Since then, its been 40 years. The first white light LED was in 1996.Invest risk high for technology update too fast. Not suitable for functional lighting project. The whole growing process is slow.
Market potential LVD can replace most of conventional light sources in functional lighting fields, so its potential market is huge. LED has developed for many years, but limited to traffic signal, vehicle rear light, LCD panel back lighting, display in lower wattage because of the low light efficiency, low power factor, scarcity of accommodated fittings.
Economy With the development of large scale production, LVD cost will be lowered to the same level of traditional lights or even lower, then it will be widely used. High cost, difficult to be widely used in some fields, limited in certain market.
Energy saving LVD efficacy is as 30% as higher than LED, with lower depreciation. Lower efficacy, lower power factor, high depreciation and heat output, not as saving as LVD. Semi-conductor technology consumes more energy during production.
Application Industrial, commercial, street, tunnel, bridge, garden, agriculture, Ad. … Traffic signal, vehicle rear lights, cell phone display screen etc. Limited in functional lighting projects.
Reference LVD has been widely used in various lighting projects. It is proved that LVD has big market potential, industrialization speed with scale effect. LED is drawn back by its technological problems. Probably another 5-10 years to go before it is industrialized and scaled.
Technical data
  1. Power: 15~300W
  2. Efficacy: >80lm/w
  3. CRI: >80Ra
  4. Color temperature: 2100K~6500K full range
  5. Depreciation: 5%(2000hrs)
  6. Life:>100,000hrs
  7. Heat output: very low
  8. Light fitting: easy to accommodate
  9. Liner light source: no glare, no flicker, good visual effect.
  1. Each 0.5~1W, more than 100 needed for large wattage.
  2. Efficacy: <60lm/w(white light)
  3. Color Rendering Index: >80Ra
  4. Color temperature:narrow range(white light LED)
  5. Light attenuation: >50%(2000 hours)
  6. Service life: <50,000hours
  7. Heat value: very high, needs cooling device.
  8. Fixture: because of more than100 led in the same large Circuit Board, it is difficult to design the right reflector.
  9. Light source: Dazzling glare and flicker, serious light pollution.

Peninjauan dan Survey Lokasi Permohonan PLTS Desa Muai Kec. Kembang Janggut

Listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat sekarang ini, baik itu berupa pembangkit listrik konvensional dari PLN mapun pembangkit listrik dari energi alternatif. Dalam upaya memenuhi kebutuhan listrik masyarakat maka pihak desa menyampaikan permohonan bantuan berupa PLTS di Desa Muai Kec. Kembang Janggut Kab. Kutai Kartanegara.

Setelah permohonan diterima Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Kutai Kartanegara maka ditunjuk tim untuk melaksanakan peninjauan dan survey ke lokasi pemohon. Tim peninjau terdiri dari 2 orang  yaitu Ibu Hj. Rita Hairani,BA (Kepala Seksi Pengembangan Listrik Pedesaan) dan Iskandar (Staf Seksi Pengembangan Listrik Pedesaan dengan hasil laporan sebagai berikut :

Desa Muai merupakan Desa baru pemekaran dari Desa Long Beleh Modang, dengan total luas wilayah 5049 ha/mserta jumlah penduduk ­+ 2300 orang.

  1. Desa Muai  sendiri berbatasan sebelah utara dengan Desa Senyiur Kec. Muara Ancalong, Sebelah Selatan dengan Desa Perdana, Sebelah Timur Desa Kelekat dan Sebelah Barat Desa Long Beleh Modang.
  2. Lokasi Desa Muai sebetulnya persis dipinggiran sungai belayan, akan tetapi seiring dengan terjadinya abrasi perlahan penduduk mulai pindah ke darat. Saat ini data bangunan rumah penduduk serta bangunan Fasilitas Umum desa berjumlah + 300 rumah
  3. Dari peninjauan serta survey awal yang dilakukan saat ini Desa Muai terdapat jaringan listrik desa yang dibantu oleh pihak perusahaan sawit PT. Rea Kaltim, listrik desa sendiri beroperasi dari pukul 18.00 s/d Pukul 24.00 setiap malamnya, sedangkan untuk biaya operasional mesin pembangkit desa yang ada, pihak pengelola menerapkan sistem bayaran perminggu dan perbulan, yang rata – rata setiap rumah           dikenakan biaya Rp. 150.000,-.  s/d  Rp. 200.000,-
  4. Data awal yang diperoleh masih banyak kekurangan dalam hal mengoperasikan listrik desa tersebut, diantaranya beban operasional mesin genset desa yang tidak seimbang dengan biaya pemasukan pembayaran dari pengguna listrik, tidak tersedianya KWH meter disetiap rumah pengguna listrik, terkadang listrik  tidak beroperasi dikarenakan ketidak mampuan dalam hal pengadaan bahan bakar, sehingga kebutuhan akan penerangan masih menjadi hambatan bagi warga desa Muai.
  5. Setelah dilakukan survey dan peninjauan awal lokasi Desa Muai masih berpotensi dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat dengan sistem Hybrid, akan tetapi hal ini perlu kajian lebih lanjut agar hasilnya bisa lebih tepat.
  6. Sedangkan untuk penerangan alternatif Desa Muai juga bisa dikembangkan sistem PLTS Tersebar (Solar Home System).
  7. Melihat dari data serta informasi pada saat peninjauan dan survey yang sudah dilaksanakan maka secara umum Permohonan Desa Muai Kec. Kembang Janggut berupa PLTS perlu ditindak lanjuti dalam upaya memberikan peneranga alternatif yang layak bagi masyarakat dalam upaya peningkatan dan pengembangan Inftrastruktur menuju masyarakat yang mandiri energy dalm pengelolaan listrik pedesaan khususnya. (iskdr

Sst! Lampu Sehen Tenaga Surya PLN Dilirik Negara Lain

Biak – Lampu Super Ekstra Hemat Energi (Sehen) buatan PLN menjadi solusi penerangan di wilayah yang tak ada jaringan listrik. Ternyata, diam-diam beberapa negara melirik lampu ini.

“Sudah ada negara yang order. Dubai, Afghanistan, Pakistan. Bukan pemerintahnya, tapi vendor kita,” kata Direktur Operasional Indonesia Timur PT PLN Vickner Sinaga.

Hal itu diungkapkannya usai acara malam keakraban PT PLN wilayah Indonesia Timur, di Hotel Nirmala Beach, Biak, Papua Barat, Kamis (14/2/2013) malam.

Vickner, yang juga menggagas desain teknis dan model bisnis lampu Sehen ini, menambahkan sementara ini hak patennya masih diurus.

“Komponen yang penting adalah baterai Lithium dan lampu LED 3 Watt yang mampu menghasilkan cahaya 60 lumen per Watt. Bandingkan dengan lampu hemat energi biasa yang menghasilkan cahaya 15 lumen per Watt,” kata dia.

Vickner menambahkan, pelanggan lampu Sehen di wilayah Indonesia Timur hingga 2012 adalah 110 ribu.

“Tahun ini kita target tambah 40 ribu,” imbuhnya.

Apalagi, imbuhnya, biaya investasi panel surya turun. Dari US$ 2,2/watt peak (WP) pada 2009, turun menjadi US$ 1,3/WP di 2011 kemudian US$ 0,8/WP tahun2012.

Lampu ini 1 set terdiri dari papan panel surya 14 WP, satu set baterai Lithium dan kabel penghubung, 3 lampu jenis LED, dan remote control untuk menyalakan dan mengatur tingkat terang lampu.

“Bisa untuk nge-charge HP dan nonton TV,” imbuhnya.

Satu set TV 21 Inchi diberikan bila di satu kampung jumlah pelanggan Sehen mencapai 100. TV diletakkan di balai desa atau kepala desa agar bisa dilihat bersama-sama.

4 keuntungan menggunakan solar cell

Keuntungan dapat diringkas sebagai berikut:
° tidak mencemari emisi apapun;
° penghematan bahan bakar fosil,
° keandalan sistem karena tidak ada bagian yang bergerak,
berjalan minimal ° dan biaya pemeliharaan;
° sistem modular (daya sistem meningkat hanya dengan menambahkan lebih modul). Pertimbangan harus diberikan pada fakta bahwa sistem fotovoltaik karena variabilitas dari sumber energi (matahari).

Inverter teknologi untuk Grid-Connected tanaman dalam aplikasi listrik tenaga matahari atau tenaga surya

 

Sebuah generator fotovoltaik menghasilkan arus listrik langsung dan karena itu hanya dapat memasok beban yang bekerja dengan bentuk saat ini, terutama dengan tegangan dari 12, 24 dan 48V. Biasanya beban kerja dengan arus bolak-balik dan jika tanaman terhubung ke jaringan transmisi listrik arus keluaran harus dari jenis ini, Eropa standar membayangkan 230V / 50Hz untuk single-fase dan 400V / 50Hz untuk tiga fase jaringan. Jadi kebutuhan untuk mengubah arus keluaran langsung dari generator PV untuk arus bolak-balik. Hal ini dilakukan oleh inverter, yang terpisah dari DC / AC konversi juga meningkatkan tegangan output sampai ke tingkat jaringan listrik tegangan untuk dimasukkan dalam jaringan. Arus diperkenalkan pada kenyataannya harus memiliki bentuk gelombang sinusoidal dan disinkronkan dengan requency jaringan dan, dalam kasus listrik, bahkan untuk periode singkat, inverter harus mampu memutuskan segera. Fitur lain yang mendasar bagi inverter adalah optimalisasi produksi energi efektif tanaman sehubungan dengan insiden radiasi matahari, dengan mengatur Maksimum Power Point (MPP).

Solusi teknis yang optimal sesuai dengan kondisi lokal telah mengakibatkan klasifikasi tiga jenis inverter dan konfigurasi:

Sentralisasi inverter

Sebuah inverter tunggal menangani seluruh tanaman, yang dapat memasok listrik bahkan dalam kisaran MW. Semua string, terdiri dari modul dihubungkan secara seri, yang bergabung bersama dalam hubungan paralel. Keuntungan dari solusi ini adalah investasi ekonomi yang terbatas, penyederhanaan tanaman dan mengurangi biaya perawatan. Salah satu kelemahan adalah sensitivitas terhadap naungan parsial sehingga membatasi eksploitasi optimal dari setiap string. Ini sangat ideal untuk bidang surya dengan orientasi seragam, kecenderungan dan kondisi teduh.

String inverter

Setiap string, terdiri dari berbagai modul dalam seri, memiliki inverter sendiri mewakili independen mini plant. Efisiensi ditingkatkan dengan konfigurasi ini dibandingkan dengan inverter terpusat menggunakan perangkat MPPT tunggal, mengurangi kerugian akibat shading. Sangat cocok untuk bidang surya bergabung dengan berbagai kondisi radiasi. Hal ini juga dapat digunakan untuk tanaman terdiri dari beberapa bidang surya didistribusikan secara geografis.

Multi-string inverter

Topologi ini adalah trade-off antara inverter dan inverter terpusat string, yang memungkinkan sambungan dari dua atau tiga senar untuk unit masing-masing dengan orientasi yang berbeda, kecenderungan dan kekuasaan. Dari aspek generator DC senar yang terhubung ke input khusus ditangani oleh MPPTs independen dan dari aspek dimasukkan dalam jaringan mereka beroperasi seperti inverter terpusat mengoptimalkan efisiensi.

Continue reading “Inverter teknologi untuk Grid-Connected tanaman dalam aplikasi listrik tenaga matahari atau tenaga surya”

Energi surya: dan solusi cerdas untuk lingkungan

Matahari dapat memenuhi semua kebutuhan kita jika kita belajar untuk rasional memanfaatkan energi yang terus-menerus irradiates menuju Bumi. Ini bersinar di langit dari kurang dari 5 miliar tahun dan bagaimanapun, telah dihitung bahwa mereka telah mencapai hanya setengah dari harapan hidupnya. Hanya berpikir bahwa selama tahun ini matahari akan menyinari ke bumi energi empat ribu kali lebih banyak dari apa yang penduduk seluruh dunia bisa mengkonsumsi.

Continue reading “Energi surya: dan solusi cerdas untuk lingkungan”